LIMBAH ALUMINIUM & BAHAN BATU INTAN
Kami Ada Limbah Aluminium sebanyak 80 ton (ada sample), dan bahan batu Intan sebanyak 150 ton (ada sample). Jika ada yg minat bisa hubungi 08129094381.
KATA-KATA MUTIARA BUNG KARNO
“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)
“Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. (Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno)
“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno)
“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (Bung Karno)
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961)
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)
“……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……” (Bung Karno)
“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. (Pidato HUT Proklamasi, 1949 Soekarno)
“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.” (Pidato HUT Proklamasi, 1950 Bung Karno)
“Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya” (Pidato HUT Proklamasi, 1964 Bung Karno)
“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.” (Pidato HUT Proklamasi 1966, Soekarno)
“Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong” (Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno)
“Aku Lebih suka lukisan Samodra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, “Kadyo siniram wayu sewindu lawase” (Pidato HUT Proklamasi 1964 Bung Karno)
“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)
“Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. (Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno)
“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno)
“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (Bung Karno)
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961)
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)
“……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……” (Bung Karno)
“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. (Pidato HUT Proklamasi, 1949 Soekarno)
“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.” (Pidato HUT Proklamasi, 1950 Bung Karno)
“Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya” (Pidato HUT Proklamasi, 1964 Bung Karno)
“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.” (Pidato HUT Proklamasi 1966, Soekarno)
“Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong” (Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno)
“Aku Lebih suka lukisan Samodra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, “Kadyo siniram wayu sewindu lawase” (Pidato HUT Proklamasi 1964 Bung Karno)
“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)
INDUK BENIH IKAN PATIN SUPER
Bagi pecinta dan pemain IKAN PATIN
Saya Sedia Induk Benihnya rata2 Berat 2kg - 4Kg per ekor
ada sebanyak 45 ekor, saya jual Rp. 60.000 per Kg.
contact : 08129094381
Saya Sedia Induk Benihnya rata2 Berat 2kg - 4Kg per ekor
ada sebanyak 45 ekor, saya jual Rp. 60.000 per Kg.
contact : 08129094381
Anda Butuh Benih Lele...?
Sedia Benih Lele Sangkuriang Unggulan bermacam ukuran.
ukuran 3-5 cm = Rp.100/ekor
ukuran 5-6 cm = Rp.175/ekor
ukuran 7-8 cm = Rp.250/ekor
ukuran 9-10 cm = Rp.300/ekor
ukuran 11-12 cm = Rp.330/ekor
(Harga tsb ambil dilokasi di Dramaga Bogor Barat)
Peminat hubungi rusdi 0812-9094381.
Kunjungi : http://leledramaga.blogspot.com
ukuran 3-5 cm = Rp.100/ekor
ukuran 5-6 cm = Rp.175/ekor
ukuran 7-8 cm = Rp.250/ekor
ukuran 9-10 cm = Rp.300/ekor
ukuran 11-12 cm = Rp.330/ekor
(Harga tsb ambil dilokasi di Dramaga Bogor Barat)
Peminat hubungi rusdi 0812-9094381.
Kunjungi : http://leledramaga.blogspot.com
Studi Tentang Industri dan Pemasaran PULP & KERTAS Beserta Bisnisnya di Indonesia
Informasi ini bisa didapatkan di http://www.cisiraya.com, atau email: marketing@cisiraya.com, phone 021-3145660

Dalam satu kesempatan di tahun 2008, Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, HM Mansur mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan pembangunan satu pabrik kertas baru setiap tahunnya menyusul pertumbuhan konsumsi kertas satu kilogram per kapita per tahun.
Konsumsi kertas di Indonesia terus meningkat satu kilogram (kg) per kapita per tahun atau sekitar 220 ribu ton. Sekarang ini konsumsi kertas di dalam negeri sudah cukup tinggi terutama untuk keperluan media cetak, buku tulis, pengemasan, tissue, dan lain-lain.
Di satu sisi banyak pihak yang menyayangkan lambatnya realisasi program Hutan Tanaman Industri (HTI), sehingga untuk memenuhi kebutuhan industri pulp terpaksa harus terus menerus menebang hutan alam. Seperti diketahui, program HTI dikembangkan untuk menjadi penyimbang kebutuhan bahan baku industri perkayuan, termasuk pulp.
Penggunaan kayu alam yang berlebihan sempat mengakibatkan 2 produsen pulp terbesar saat ini yaitu PT. Indah Kiat Pulp Paper (PT.IKPP) dan PT. Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) yang menguasai 62% kapasitas nasional di daulat untuk menghentikan operasinya, pada bulan Februari 2007. Akibatnya sudah bisa ditebak, negara kehilangan devisa yang cukup besar selama kedua perusahaan tersebut tidak beroperasi. Selain itu, dengan berhentinya pabrik pulp dikhawatirkan akan mengganggu kelangsungan pasokan bahan baku industri kertas di dalam negeri.
Secara konglomerasi industri Pulp dan Kertas merupakan industri yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian negara, di lain pihak faktor bahan baku di sektor hulu hingga tahun 2014 diperkirakan masih akan tetap menghadapi masalah.
Tertarik dengan kontroversi di seputar industri pulp dan kertas, belum lama ini CISI Raya melakukan kajian yang lebih mendalam terhadap industri tersebut meliputi aspek industrinya, aspek pasar, pengadaan, pemain kunci, persaingan, permasalahan yang dihadapi dan sebagainya, serta prospek bisnis untuk rentang waktu 7 tahun ke depan. Dari hasil studi diketahui bahwa beberapa jenis kertas masih memberikan ruang cukup menarik bagi dilakukannya investasi, setidaknya bisa menjadi prioritas bisnis yang cukup menjanjikan.
Dalam satu kesempatan di tahun 2008, Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, HM Mansur mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan pembangunan satu pabrik kertas baru setiap tahunnya menyusul pertumbuhan konsumsi kertas satu kilogram per kapita per tahun.
Konsumsi kertas di Indonesia terus meningkat satu kilogram (kg) per kapita per tahun atau sekitar 220 ribu ton. Sekarang ini konsumsi kertas di dalam negeri sudah cukup tinggi terutama untuk keperluan media cetak, buku tulis, pengemasan, tissue, dan lain-lain.
Di satu sisi banyak pihak yang menyayangkan lambatnya realisasi program Hutan Tanaman Industri (HTI), sehingga untuk memenuhi kebutuhan industri pulp terpaksa harus terus menerus menebang hutan alam. Seperti diketahui, program HTI dikembangkan untuk menjadi penyimbang kebutuhan bahan baku industri perkayuan, termasuk pulp.
Penggunaan kayu alam yang berlebihan sempat mengakibatkan 2 produsen pulp terbesar saat ini yaitu PT. Indah Kiat Pulp Paper (PT.IKPP) dan PT. Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) yang menguasai 62% kapasitas nasional di daulat untuk menghentikan operasinya, pada bulan Februari 2007. Akibatnya sudah bisa ditebak, negara kehilangan devisa yang cukup besar selama kedua perusahaan tersebut tidak beroperasi. Selain itu, dengan berhentinya pabrik pulp dikhawatirkan akan mengganggu kelangsungan pasokan bahan baku industri kertas di dalam negeri.
Secara konglomerasi industri Pulp dan Kertas merupakan industri yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian negara, di lain pihak faktor bahan baku di sektor hulu hingga tahun 2014 diperkirakan masih akan tetap menghadapi masalah.
Tertarik dengan kontroversi di seputar industri pulp dan kertas, belum lama ini CISI Raya melakukan kajian yang lebih mendalam terhadap industri tersebut meliputi aspek industrinya, aspek pasar, pengadaan, pemain kunci, persaingan, permasalahan yang dihadapi dan sebagainya, serta prospek bisnis untuk rentang waktu 7 tahun ke depan. Dari hasil studi diketahui bahwa beberapa jenis kertas masih memberikan ruang cukup menarik bagi dilakukannya investasi, setidaknya bisa menjadi prioritas bisnis yang cukup menjanjikan.
Studi Kelayakan Pembangunan HOTEL Berbintang di Indonesia, 2009-2013"
Pada awal semester kedua tahun 2009, PT. CISI RAYA UTAMA (CISI) berhasil membuat sebuah hasil analisa yang diberi judul “Studi Kelayakan Pembangunan Hotel Berbintang di Indonesia 2009 – 2013”. Didalam buku tersebut dibahas pertumbuhan bisnis hotel, jumlah hotel yang beroperasi di seluruh Indonesia, jumlah kamar yang tersedia menurut klassifikasi dan bintangnya masing-masing dan keterangan-keterangan lain yang berkaitan dengan bisnis perhotelan. Hasil pengumpulan data dari berbagai sumber terkait, dapat diketahui occupancy rate masing-masing hotel sesuai dengan kelasnya, lama rata-rata tamu yang menginap, termasuk juga jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia.
Data-data pendukung yang bisa digunakan sebagai dasar dalam menganalisa buku ini bersumber dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Biro Pusat Statistik, Indikator Ekonomi Bank Indonesia, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan dari berbagai sumber lain yang berkompeten. Sebagai studi kelayakan, buku ini juga menjelaskan secara rinci ketentuan-ketentuan yang berlaku pada sebuah hotel sesuai dengan klassifikasinya, termasuk fasilitas dan peralatan yang dipakai dalam setiap kamar.
Didalam buku ini juga dihitung secara rinci berapa besarnya investasi yang diperlukan dalam membangun sebuah hotel baru dengan klassifikasi bintang-1, hotel dengan klasifikasi bintang-2, hotel dengan klasifikasi bintang-3, hotel dengan klasifikasi bintang-4 dan hotel dengan klasifikasi bintang-5 sesuai dengan harga yang berlaku pada tahun 2009 hingga 2013.
CISI tertarik untuk membuat buku ini karena semakin banyak hotel baru yang dibangun di Indonesia, baik dikota-kota besar maupun didaerah kawasan wisata. Saat ini sebuah proyek raksasa sedang dibangun di daerah Jimbaran, Bali yang dikenal dengan proyek Pecatu Indah Resort. Pada proyek ini sedang dibangun 2 unit hotel berbintang lima dan beberapa Apartmen. Untuk tahap I Proyek ini baru merealisasikan lahannya seluas 124,5 hektar. Total proyek ini seluruhnya mencapai seluas 400 hektar. Proyek ini nantinya bisa menimbulkan suasana baru dan juga menjadikan daya tarik baru bagi wisatawan yang mengunjungi Bali.
Pada semester pertama tahun 2009 ini beberapa hotel besar di Jakarta, baru selesai direnovasi secara total seperti Hotel Indonesia, yang kini bernama Hotel Indonesia Kempenski, demikian pula Hotel Sahid Jaya di Jalan Sudirman, Jakarta, baru selesai direnovasi yang menelan investasi puluhan milyar rupiah. Saat ini beberapa group perusahaan besar juga giat membangun hotel atau resort di kota-kota maupun didaerah tujuan wisata. PT. Lippo Karawaci Tbk., sedang merencanakan pembangunan beberapa hotel di Jakarta seperti di Proyek Kemang Village dan Proyek Puri Paragon (St.Moritz). The Pakuwon Group juga sedang membangun 2 hotel masing-masing di Gandaria City dan Kota Casablanka keduanya di Jakarta, PT. Bukit Darmo Permai Tbk., sedang membangun sebuah hotel bintang 5 di Surabaya, Jawa Timur.
Data-data pendukung yang bisa digunakan sebagai dasar dalam menganalisa buku ini bersumber dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Biro Pusat Statistik, Indikator Ekonomi Bank Indonesia, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan dari berbagai sumber lain yang berkompeten. Sebagai studi kelayakan, buku ini juga menjelaskan secara rinci ketentuan-ketentuan yang berlaku pada sebuah hotel sesuai dengan klassifikasinya, termasuk fasilitas dan peralatan yang dipakai dalam setiap kamar.
Didalam buku ini juga dihitung secara rinci berapa besarnya investasi yang diperlukan dalam membangun sebuah hotel baru dengan klassifikasi bintang-1, hotel dengan klasifikasi bintang-2, hotel dengan klasifikasi bintang-3, hotel dengan klasifikasi bintang-4 dan hotel dengan klasifikasi bintang-5 sesuai dengan harga yang berlaku pada tahun 2009 hingga 2013.
CISI tertarik untuk membuat buku ini karena semakin banyak hotel baru yang dibangun di Indonesia, baik dikota-kota besar maupun didaerah kawasan wisata. Saat ini sebuah proyek raksasa sedang dibangun di daerah Jimbaran, Bali yang dikenal dengan proyek Pecatu Indah Resort. Pada proyek ini sedang dibangun 2 unit hotel berbintang lima dan beberapa Apartmen. Untuk tahap I Proyek ini baru merealisasikan lahannya seluas 124,5 hektar. Total proyek ini seluruhnya mencapai seluas 400 hektar. Proyek ini nantinya bisa menimbulkan suasana baru dan juga menjadikan daya tarik baru bagi wisatawan yang mengunjungi Bali.
Pada semester pertama tahun 2009 ini beberapa hotel besar di Jakarta, baru selesai direnovasi secara total seperti Hotel Indonesia, yang kini bernama Hotel Indonesia Kempenski, demikian pula Hotel Sahid Jaya di Jalan Sudirman, Jakarta, baru selesai direnovasi yang menelan investasi puluhan milyar rupiah. Saat ini beberapa group perusahaan besar juga giat membangun hotel atau resort di kota-kota maupun didaerah tujuan wisata. PT. Lippo Karawaci Tbk., sedang merencanakan pembangunan beberapa hotel di Jakarta seperti di Proyek Kemang Village dan Proyek Puri Paragon (St.Moritz). The Pakuwon Group juga sedang membangun 2 hotel masing-masing di Gandaria City dan Kota Casablanka keduanya di Jakarta, PT. Bukit Darmo Permai Tbk., sedang membangun sebuah hotel bintang 5 di Surabaya, Jawa Timur.
ISI BENSIN BUKAN LAGI PENGELUARAN, TAPI SUMBER PENGHASILAN.???
Sudah saatnya sekarang untuk anda menyiasati pengeluaran BBM untuk kendaraan anda menjadikan PENGHASILAN. Apapun profesi anda dalam kegiatan sehari-hari, pasti menggunakan alat transportasi motor/mobil. Dan pasti membutuhkan BBM yg merupakan ONGKOS (UANG HILANG) yang selalu harus dibayar.
Berapa UANG HILANG Anda untuk membeli BBM..?
Menggunakan Sepeda motor =
1 hari------------Rp. 10.000?
1 bulan----------Rp. 300.000?
1 tahun----------Rp. 3.600.000?
Menggunakan Mobil pasti lebih banyak lagi..!!!
TAPI SEKARANG!!
Anda tidak lagi membeli BBM menjadikan PENGELUARAN melainkan SUMBER PENGHASILAN.
Ingin bukti?
Kunjungi di http://www.bisnispremium.com/?ref=BP108100
atau download brosurnya dimenu Download
ANDA PASTI BISA!!!!!!!
Berapa UANG HILANG Anda untuk membeli BBM..?
Menggunakan Sepeda motor =
1 hari------------Rp. 10.000?
1 bulan----------Rp. 300.000?
1 tahun----------Rp. 3.600.000?
Menggunakan Mobil pasti lebih banyak lagi..!!!
TAPI SEKARANG!!
Anda tidak lagi membeli BBM menjadikan PENGELUARAN melainkan SUMBER PENGHASILAN.
Ingin bukti?
Kunjungi di http://www.bisnispremium.com/?ref=BP108100
atau download brosurnya dimenu Download
ANDA PASTI BISA!!!!!!!
Dijual Sebidang Tanah Lokasi Jakarta Timur
Luas tanah 11.584 M2 Dokumen lengkap 3 sertifikat, lokasi strategis dekat jalan raya, harga Rp. 1,5 jt per mtr.
Profil 10 Pelaku Bisnis Batubara di Indonesia 2009
BATUBARA merupakan sebuah komoditas bahan bakar yang sudah dikenal sejak jaman dahulu, dan penggunanya terutama industri-industri besar seperti pabrik semen, pabrik gula, bahan bakar sarana transportasi, seperti kereta api, kapal laut dan lain sebagainya. Kondisi dan perkembangan penggunaan batubara sebagai bahan bakar sempat berkurang beberapa tahun lalu, dan banyak pabrik-pabrik yang mengganti bahan bakarnya dengan Bahan Bakar Minyak & Gas. Namun awal tahun 90-an batubara kembali diminati, dan industri-industri besar kembali menggunakan batubara. Bahkan belakangan industri menengah juga menggunakan batubara seperti industri tekstil, industri keramik dan lain sebagainya.
Sejak tahun 2000 batubara sudah menjadi komoditas ekspor andalan Indonesia. Ini disebabkan oleh permintaan batubara bagi negara-negara industri, seperti India, PR. China, Jepang, Korea Selatan, Negara-negara Eropa dan juga Amerika Serikat terus meningkat jumlahnya. Akibatnya minat calon investor di Indonesia terhadap pengelolaan pertambangan batubara semakin besar. Belakangan ini calon investor sering berebut untuk mendapatkan konsesi tambang batubara di berbagai daerah. Disamping itu semakin banyak investor yang berminat memasuki bisnis penunjang tambang batubara seperti pengelolaan pelabuhan khusus batubara, angkutan batubara, perdagangan peralatan pertambangan, hingga kontraktor pertambangan.
Untuk membantu para pengambil keputusan dan juga calon investor, PT. CISI Raya Utama (CISI) telah berhasil menerbitkan sebuah hasil analisa yang diberi judul Profil 10 Pelaku Bisnis Batubara di Indonesia 2009. Profil tersebut berisikan hasil analisa terhadap 10 perusahaan yang bergerak dalam kegiatan pertambangan batubara, baik perusahaan berukuran besar, menengah dan perusahaan yang baru memasuki bisnis ini. Terdapat beberapa perusahaan yang mengalihkan bisnisnya secara keseluruhan dan ada juga perusahaan yang hanya mengalihkan bisnisnya sebagian saja. Profil tersebut terdiri dari 121 halaman, dikemas dalam satu buku.
Daftar Profil 10 Pelaku Bisnis Batubara adalah sbb :
PT. ADARO ENERGY Tbk
PT. ATPK RESOURCES Tbk
PT. BAYAN RESOURCES Tbk
PT. BUMI RESOURCES Tbk
PT. DAYAINDO RESOURCES INTERNATIONAL Tbk
PT. HANSON INTERNATIONAL Tbk
PT. INDIKA ENERGY Tbk
PT. INDO TAMBANGRAYA MEGAH Tbk
PT. PERDANA KARYA PERKASA Tbk
PT. Tambang Batubara BUKIT ASAM Tbk
Informasi ini bisa didapatkan di http://www.cisiraya.com, atau email: marketing@cisiraya.com, phone 021-3145660
Sejak tahun 2000 batubara sudah menjadi komoditas ekspor andalan Indonesia. Ini disebabkan oleh permintaan batubara bagi negara-negara industri, seperti India, PR. China, Jepang, Korea Selatan, Negara-negara Eropa dan juga Amerika Serikat terus meningkat jumlahnya. Akibatnya minat calon investor di Indonesia terhadap pengelolaan pertambangan batubara semakin besar. Belakangan ini calon investor sering berebut untuk mendapatkan konsesi tambang batubara di berbagai daerah. Disamping itu semakin banyak investor yang berminat memasuki bisnis penunjang tambang batubara seperti pengelolaan pelabuhan khusus batubara, angkutan batubara, perdagangan peralatan pertambangan, hingga kontraktor pertambangan.
Untuk membantu para pengambil keputusan dan juga calon investor, PT. CISI Raya Utama (CISI) telah berhasil menerbitkan sebuah hasil analisa yang diberi judul Profil 10 Pelaku Bisnis Batubara di Indonesia 2009. Profil tersebut berisikan hasil analisa terhadap 10 perusahaan yang bergerak dalam kegiatan pertambangan batubara, baik perusahaan berukuran besar, menengah dan perusahaan yang baru memasuki bisnis ini. Terdapat beberapa perusahaan yang mengalihkan bisnisnya secara keseluruhan dan ada juga perusahaan yang hanya mengalihkan bisnisnya sebagian saja. Profil tersebut terdiri dari 121 halaman, dikemas dalam satu buku.
Daftar Profil 10 Pelaku Bisnis Batubara adalah sbb :
PT. ADARO ENERGY Tbk
PT. ATPK RESOURCES Tbk
PT. BAYAN RESOURCES Tbk
PT. BUMI RESOURCES Tbk
PT. DAYAINDO RESOURCES INTERNATIONAL Tbk
PT. HANSON INTERNATIONAL Tbk
PT. INDIKA ENERGY Tbk
PT. INDO TAMBANGRAYA MEGAH Tbk
PT. PERDANA KARYA PERKASA Tbk
PT. Tambang Batubara BUKIT ASAM Tbk
Informasi ini bisa didapatkan di http://www.cisiraya.com, atau email: marketing@cisiraya.com, phone 021-3145660
Telah terbit Profile 40 besar Group Perusahaan di Indonesia
Telah terbit Profile 40 besar Group Perusahaan di Indonesia secara komprehensip dengan judul :
The COMPREHENSIVE 40 MAJOR GROUP OF COMPANIES In Indonesia, 2008-2009
Masing2 group perusahaan berisi :
Latar belakang/Sejarah berdirinya, pemilik, anak2 perusahaan, bidang usahanya, aktifitas dan afiliasi anak perusahaanya, aspek keuangan dan analisanya, aspek manajemen, dsb.
Kunjungi dan dapatkan disini : www.cisiraya.com
e-mail : marketing@cisiraya.com
The COMPREHENSIVE 40 MAJOR GROUP OF COMPANIES In Indonesia, 2008-2009
Masing2 group perusahaan berisi :
Latar belakang/Sejarah berdirinya, pemilik, anak2 perusahaan, bidang usahanya, aktifitas dan afiliasi anak perusahaanya, aspek keuangan dan analisanya, aspek manajemen, dsb.
Kunjungi dan dapatkan disini : www.cisiraya.com
e-mail : marketing@cisiraya.com
DIJUAL CEPAT KEBUN SAWIT
Total Luas Lahan : 20,587.00 Ha (di Sumatera Selatan)
Luas Kebun : Izin Lahan HGU (17.793,5 ha)
Kapasitas Pabrik : 20 ton/jam yang akan ditingkatkan menjadi 60 Ton/Jam
Lokasi : Kabupaten Musirawas (Muara Rupit) Sumatera Selatan
Peminat hubungi : Rusdi/Roni 08129094381, 08151849290
e-mail : rusdy@idola.net.id
Luas Kebun : Izin Lahan HGU (17.793,5 ha)
Kapasitas Pabrik : 20 ton/jam yang akan ditingkatkan menjadi 60 Ton/Jam
Lokasi : Kabupaten Musirawas (Muara Rupit) Sumatera Selatan
Peminat hubungi : Rusdi/Roni 08129094381, 08151849290
e-mail : rusdy@idola.net.id
Telah terbit Profile 40 besar Group Perusahaan di Indonesia
Telah terbit Profile 40 besar Group Perusahaan di Indonesia secara komprehensip dengan judul :
The COMPREHENSIVE 40 MAJOR GROUP OF COMPANIES In Indonesia, 2008-2009
Masing2 group perusahaan berisi :
Latar belakang/Sejarah berdirinya, pemilik, anak2 perusahaan, bidang usahanya, aktifitas dan afiliasi anak perusahaanya, aspek keuangan dan analisanya, aspek manajemen, dsb.
Kunjungi dan dapatkan disini : www.cisiraya.com
e-mail : muslim@cisiraya.com

The COMPREHENSIVE 40 MAJOR GROUP OF COMPANIES In Indonesia, 2008-2009
Masing2 group perusahaan berisi :
Latar belakang/Sejarah berdirinya, pemilik, anak2 perusahaan, bidang usahanya, aktifitas dan afiliasi anak perusahaanya, aspek keuangan dan analisanya, aspek manajemen, dsb.
Kunjungi dan dapatkan disini : www.cisiraya.com
e-mail : muslim@cisiraya.com

The Big-10 Palm Oil Player, 2008"
Komoditas kelapa sawit dalam perdagangan internasional menduduki urutan kedua setelah minyak kedele (soy bean), dan hingga saat ini masih memiliki peranan penting. Indonesia yang tercatat sebagai sentra produksi kelapa sawit dunia, memiliki kontribusi sekitar 35.9 persen dari total produksi minyak sawit dunia. Selain Indonesia, Malaysia juga tercatat sebagai sentra produksi minyak sawit dunia, bahkan pada periode yang sama kontribusi negara ini telah mencapai 47.8 persen dari total produksi dunia.
Malaysia dan Indonesia yang secara geografis berdekatan ternyata menjadi penghasil utama minyak kelapa sawit dunia, dan dari kedua negara tersebut memiliki kontribusi sekitar 83.7 persen dari total produksi dunia. Negara-negara lainnya yang dianggap memiliki potensi sebagai penyumbang produksi minyak kelapa sawit dunia adalah Nigeria, Ivory Cost, Columbia, Papua New Guinea, Zaire, Kamerun, Equador dan China. Namun hingga saat ini negara-negara tersebut masih memiliki kontribusi yang relatif kecil dibandingkan dengan kedua negara tersebut.
Indonesia tampak terus berusaha meningkatkan peranannya di pasar internasional, baik melalui pengembangan produksinya maupun pemasarannya. Dari sisi produksinya, sebenarnya Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, khususnya peranan perkebunan rakyat. Laju pertumbuhan rata-rata luas perkebunan rakyat selama dua puluah tahun terakhir ini mencapai sekitar 33.2 persen per tahun. Perkebunan rakyat baru dimulai pada tahun 1979 dengan luas lahan sekitar 3,125 ha, kemudian pada tahun 1996 telah mencapai 738.887 ha, dan pada tahun 2006 diperkirakan telah mencapai 2.636.425 ha.

Sementara itu, luas area perkebunan negara (PBN) pada tahun 1996 telah mencapai 426,804 ha, dan tahun 2005 diperkirakan mencapai 677,041 ha. Perkebunan swasta (PBS) memiliki perkembangan yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan luas area perkebunan negara, laju pertumbuhan rata-rata luas area perkebunan negara selama tiga puluh tahun terakhir ini sekitar 13.3 persen per tahun. Sejak tahun 1989 perkebunan swasta telah mampu mendominasi perkebunan rakyat maupun perkebunan negara, bahkan pada tahun 2005 telah memiliki kontribusi sekitar 53.7 persen dari total luas area perkebunan kelapa sawit nasional.
Dilihat dari produktivitasnya, pada tahun 2005 perkebunan swasta mencapai 2.2 ton CPO per ha, dan pada periode yang sama produktivitas perkebunan negara telah mencapai 3.0 ton CPO per ha. Rendahnya produktivitas perkebunan swasta, seperti yang terurai diatas, lebih disebabkan karena banyaknya jumlah kebun yang belum menghasilkan, demikian pula dengan perkebunan rakyat. Adapun perkembangan produksi dan kontribusi masing-masing pengelola perkebunan kelapa sawit tersebut selama satu dekade terakhir ini.
Sejalan dengan perkembangan luas lahannya, produksi PKO (Palm Kernel Oil) selama ini menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat dengan laju pertumbuhan produksi PKO selama beberapa dekade terakhir ini mencapai sekitar 12.0 persen per tahun. Pada tahun 1996 produksi PKO mencapai 1.084.676 ton dan tahun 2005 meningkat lebih dari dua kali lipatnya menjadi 2.516.944 ton. Dari jumlah itu, produksi PKO dari perkebunan rakyat sebanyak 735.999 ton dengan kontribusi 29,2 persen dari total produksinya, dari perkebunan negara mencapai 409,970 ton atau 16,3 persen, dan dari perkebunan swasta 1.370.976 ton atau 54,5 persen.
Sementara itu, tahun 2006 total produksi PKO Indonesia diperkirakan mencapai 2.792.059 ton. Selengkapnya perkembangan produksi PKO dan kontribusi masing-masing pengelola dalam beberapa dekade ini.
B. Penyebaran Menurut Propinsi dan Pengelola
Pengembangan perkebunan kelapa sawit milik rakyat ternyata masih terkonsentrasi di pulau Sumatra, sedangkan kawasan lainnya yang juga telah menunjukkan peranannya adalah Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Jawa Barat.
Pulau Jawa yang menjadi pusat pembangunan nasional ternyata hanya memiliki kontribusi kurang dari 1 persen dari total luas lahan perkebunan sawit nasional pada tahun 2005. Bahkan pengembangan perkebunan kelapa sawit milik rakyat ini juga masih terbatas di propinsi Jawa Barat, dengan luasan sekitar 6,308 ha. Kawasan Nusatenggara dan Maluku tampaknya bukan merupakan tempat yang layak untuk pengembangan kelapa sawit dan hingga saat ini belum tampak upaya kearah itu, baik perkebunan rakyat, perkebunan negara maupun perkebunan swasta.
Pada tahun 2005 kontribusi Sumatra terhadap luas areal perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh rakyat mencapai 81.9 persen, sedangkan kontribusi terhadap produksinya sebesar 85.1 persen. Kalimantan yang menjadi sentra kedua setelah kawasan Sumatra ternyata hanya memiliki kontribusi sekitar 14.9 persen. Sulawesi merupakan kawasan lainnya yang cukup potensial sebagai sentra produksi kelapa sawit nasional, namun demikian hingga saat ini kontribusinya masih relatif kecil. Pada tahun 2005 kawasan ini memiliki kontribusi sekitar 1.8 persen dari total luas area perkebunan rakyat. Papua merupakan kawasan paling timur Indonesia ternyata merupakan kontributor terbesar keempat setelah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Untuk jelasnya luas areal dan produksi perkebunan rakyat masing-masing propinsi pada tahun 2004 dan 2005
Seperti pada perkebunan rakyat, pernyebaran perkebunan kelapa sawit milik negara juga lebih terkonsentrasi di Sumatra, bahkan kawasan ini memiliki kontribusi sekitar 80.5 persen dari luas total perkebunan negara pada tahun 2005. Kawasan Kalimantan yang menjadi sentral terbesar kedua setelah Sumatra, ternyata memiliki kontribusi sekitar 10.3 persen dan kawasan pulau Jawa hanya 2,2 persen. Sedangkan kawasan lainnya masih relatif kecil kontribusinya, baik diliat dari luasannya maupun produksinya.
Seperti halnya dengan perkebunan rakyat dan negara, perkebunan kelapa sawit milik swasta juga masih terkonsentrasi di kawasan Sumatra, kemdian diikuti oleh Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Jawa. Kontribusi Sumatra terhadap luas lahan perkebunan swasta pada tahun 2005 mencapai 72.1 persen, dan kontribusi produksinya sebesar 81.1 persen.
Kalimantan yang menjadi sentra produksi kelapa sawit swasta terbesar kedua setelah Sumatra, memiliki kontribusi sekitar 25.1 persen dan kontribusi produksinya mencapai 16.3 persen. Hal ini merupakan indikasi bahwa kawasan Kalimantan ini merupakan salah satu kawasan yang cukup potensial sebagai sentra produksi kelapa sawit nasional.
Sementara itu, kawasan Sulawesi masih relatif kecil kontribusinya dan pengembangannya masih terbatas di dua propinsi, yaitu propinsi Sulawesi Tengah dan Sulwasei Selatan. Kontribusi Sulawesi terhadap luas perkebunan kelapa sawit swasta pada tahun 2005 sebesar 2.3 persen, dan kontribusi produksinya mencapai 2.3 persen
Demikian pula dengan pulau Jawa, pengembangannya juga masih terbatas di propinsi Banten dan Jawa Barat dimana kontribusinya masih relatif kecil. Sedangkan Papua merupakan kawasan lainnya yang mulai dilirik oleh pihak pengusaha kelapa sawit dan pihak swasta khususnya, bahkan pada tahun 2005 telah tercatat sekitar 11,736 ha tanaman kelapa sawit milik swasta
Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa pengembangan usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia masih terkonsentrasi di Indonesia bagian barat, khsusnya kawasan Sumatra. Kontribusi kawasan ini terhadap usaha perkebunan kelapa sawit nasional pada tahun 2004 mencapai 76.9 persen, kemudian pada tahun 2005 turun menjadi 76.5 persen. Sedangkan kontribusi produksinya pada tahun 2004 sebesar 83.8 persen dan tahun 2005 turun menjadi 83.5 persen.
Kalimantan yang menjadi kawasan terbesar kedua setelah Sumatra ternyata memiliki kontribusi sekitar 19.8 persen.. Sementara itu, wilayah Sulawesi dan Papua hingga saat ini masih memiliki kontribusi yang rendah, namun sebenarnya kedua kawasan ini memiliki potensi yang cukup tinggi sebagai sentra produksi kelapa sawit nasional. Adapun kontribusi masing-masing propinsi terhadap luas lahan dan produksi kelapa sawit nasional.
Demikian sebagian isi Executive Summary dari Direktori "The Big-10 Palm Oil Player, 2008"
Informasi ini bisa didapatkan di http://www.cisiraya.com, atau email: marketing@cisiraya.com, phone 021-3145660
Malaysia dan Indonesia yang secara geografis berdekatan ternyata menjadi penghasil utama minyak kelapa sawit dunia, dan dari kedua negara tersebut memiliki kontribusi sekitar 83.7 persen dari total produksi dunia. Negara-negara lainnya yang dianggap memiliki potensi sebagai penyumbang produksi minyak kelapa sawit dunia adalah Nigeria, Ivory Cost, Columbia, Papua New Guinea, Zaire, Kamerun, Equador dan China. Namun hingga saat ini negara-negara tersebut masih memiliki kontribusi yang relatif kecil dibandingkan dengan kedua negara tersebut.
Indonesia tampak terus berusaha meningkatkan peranannya di pasar internasional, baik melalui pengembangan produksinya maupun pemasarannya. Dari sisi produksinya, sebenarnya Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, khususnya peranan perkebunan rakyat. Laju pertumbuhan rata-rata luas perkebunan rakyat selama dua puluah tahun terakhir ini mencapai sekitar 33.2 persen per tahun. Perkebunan rakyat baru dimulai pada tahun 1979 dengan luas lahan sekitar 3,125 ha, kemudian pada tahun 1996 telah mencapai 738.887 ha, dan pada tahun 2006 diperkirakan telah mencapai 2.636.425 ha.
Sementara itu, luas area perkebunan negara (PBN) pada tahun 1996 telah mencapai 426,804 ha, dan tahun 2005 diperkirakan mencapai 677,041 ha. Perkebunan swasta (PBS) memiliki perkembangan yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan luas area perkebunan negara, laju pertumbuhan rata-rata luas area perkebunan negara selama tiga puluh tahun terakhir ini sekitar 13.3 persen per tahun. Sejak tahun 1989 perkebunan swasta telah mampu mendominasi perkebunan rakyat maupun perkebunan negara, bahkan pada tahun 2005 telah memiliki kontribusi sekitar 53.7 persen dari total luas area perkebunan kelapa sawit nasional.
Dilihat dari produktivitasnya, pada tahun 2005 perkebunan swasta mencapai 2.2 ton CPO per ha, dan pada periode yang sama produktivitas perkebunan negara telah mencapai 3.0 ton CPO per ha. Rendahnya produktivitas perkebunan swasta, seperti yang terurai diatas, lebih disebabkan karena banyaknya jumlah kebun yang belum menghasilkan, demikian pula dengan perkebunan rakyat. Adapun perkembangan produksi dan kontribusi masing-masing pengelola perkebunan kelapa sawit tersebut selama satu dekade terakhir ini.
Sejalan dengan perkembangan luas lahannya, produksi PKO (Palm Kernel Oil) selama ini menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat dengan laju pertumbuhan produksi PKO selama beberapa dekade terakhir ini mencapai sekitar 12.0 persen per tahun. Pada tahun 1996 produksi PKO mencapai 1.084.676 ton dan tahun 2005 meningkat lebih dari dua kali lipatnya menjadi 2.516.944 ton. Dari jumlah itu, produksi PKO dari perkebunan rakyat sebanyak 735.999 ton dengan kontribusi 29,2 persen dari total produksinya, dari perkebunan negara mencapai 409,970 ton atau 16,3 persen, dan dari perkebunan swasta 1.370.976 ton atau 54,5 persen.
Sementara itu, tahun 2006 total produksi PKO Indonesia diperkirakan mencapai 2.792.059 ton. Selengkapnya perkembangan produksi PKO dan kontribusi masing-masing pengelola dalam beberapa dekade ini.
B. Penyebaran Menurut Propinsi dan Pengelola
Pengembangan perkebunan kelapa sawit milik rakyat ternyata masih terkonsentrasi di pulau Sumatra, sedangkan kawasan lainnya yang juga telah menunjukkan peranannya adalah Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Jawa Barat.
Pulau Jawa yang menjadi pusat pembangunan nasional ternyata hanya memiliki kontribusi kurang dari 1 persen dari total luas lahan perkebunan sawit nasional pada tahun 2005. Bahkan pengembangan perkebunan kelapa sawit milik rakyat ini juga masih terbatas di propinsi Jawa Barat, dengan luasan sekitar 6,308 ha. Kawasan Nusatenggara dan Maluku tampaknya bukan merupakan tempat yang layak untuk pengembangan kelapa sawit dan hingga saat ini belum tampak upaya kearah itu, baik perkebunan rakyat, perkebunan negara maupun perkebunan swasta.
Pada tahun 2005 kontribusi Sumatra terhadap luas areal perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh rakyat mencapai 81.9 persen, sedangkan kontribusi terhadap produksinya sebesar 85.1 persen. Kalimantan yang menjadi sentra kedua setelah kawasan Sumatra ternyata hanya memiliki kontribusi sekitar 14.9 persen. Sulawesi merupakan kawasan lainnya yang cukup potensial sebagai sentra produksi kelapa sawit nasional, namun demikian hingga saat ini kontribusinya masih relatif kecil. Pada tahun 2005 kawasan ini memiliki kontribusi sekitar 1.8 persen dari total luas area perkebunan rakyat. Papua merupakan kawasan paling timur Indonesia ternyata merupakan kontributor terbesar keempat setelah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Untuk jelasnya luas areal dan produksi perkebunan rakyat masing-masing propinsi pada tahun 2004 dan 2005
Seperti pada perkebunan rakyat, pernyebaran perkebunan kelapa sawit milik negara juga lebih terkonsentrasi di Sumatra, bahkan kawasan ini memiliki kontribusi sekitar 80.5 persen dari luas total perkebunan negara pada tahun 2005. Kawasan Kalimantan yang menjadi sentral terbesar kedua setelah Sumatra, ternyata memiliki kontribusi sekitar 10.3 persen dan kawasan pulau Jawa hanya 2,2 persen. Sedangkan kawasan lainnya masih relatif kecil kontribusinya, baik diliat dari luasannya maupun produksinya.
Seperti halnya dengan perkebunan rakyat dan negara, perkebunan kelapa sawit milik swasta juga masih terkonsentrasi di kawasan Sumatra, kemdian diikuti oleh Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Jawa. Kontribusi Sumatra terhadap luas lahan perkebunan swasta pada tahun 2005 mencapai 72.1 persen, dan kontribusi produksinya sebesar 81.1 persen.
Kalimantan yang menjadi sentra produksi kelapa sawit swasta terbesar kedua setelah Sumatra, memiliki kontribusi sekitar 25.1 persen dan kontribusi produksinya mencapai 16.3 persen. Hal ini merupakan indikasi bahwa kawasan Kalimantan ini merupakan salah satu kawasan yang cukup potensial sebagai sentra produksi kelapa sawit nasional.
Sementara itu, kawasan Sulawesi masih relatif kecil kontribusinya dan pengembangannya masih terbatas di dua propinsi, yaitu propinsi Sulawesi Tengah dan Sulwasei Selatan. Kontribusi Sulawesi terhadap luas perkebunan kelapa sawit swasta pada tahun 2005 sebesar 2.3 persen, dan kontribusi produksinya mencapai 2.3 persen
Demikian pula dengan pulau Jawa, pengembangannya juga masih terbatas di propinsi Banten dan Jawa Barat dimana kontribusinya masih relatif kecil. Sedangkan Papua merupakan kawasan lainnya yang mulai dilirik oleh pihak pengusaha kelapa sawit dan pihak swasta khususnya, bahkan pada tahun 2005 telah tercatat sekitar 11,736 ha tanaman kelapa sawit milik swasta
Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa pengembangan usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia masih terkonsentrasi di Indonesia bagian barat, khsusnya kawasan Sumatra. Kontribusi kawasan ini terhadap usaha perkebunan kelapa sawit nasional pada tahun 2004 mencapai 76.9 persen, kemudian pada tahun 2005 turun menjadi 76.5 persen. Sedangkan kontribusi produksinya pada tahun 2004 sebesar 83.8 persen dan tahun 2005 turun menjadi 83.5 persen.
Kalimantan yang menjadi kawasan terbesar kedua setelah Sumatra ternyata memiliki kontribusi sekitar 19.8 persen.. Sementara itu, wilayah Sulawesi dan Papua hingga saat ini masih memiliki kontribusi yang rendah, namun sebenarnya kedua kawasan ini memiliki potensi yang cukup tinggi sebagai sentra produksi kelapa sawit nasional. Adapun kontribusi masing-masing propinsi terhadap luas lahan dan produksi kelapa sawit nasional.
Demikian sebagian isi Executive Summary dari Direktori "The Big-10 Palm Oil Player, 2008"
Informasi ini bisa didapatkan di http://www.cisiraya.com, atau email: marketing@cisiraya.com, phone 021-3145660
Dijual cepat Beberapa Kebun Sawit
Kebun Sawit Lokasi Jambi dengan luas 15.000 Ha.
Kebun Sawit Lokasi Pematang Karang Kalimantan Tengah, Luas 15.750 Ha
Kebun Sawit Lokasi Pematang Karang Kalimantan Tengah, Luas 15.750 Ha
KEBUN SAWIT DAN KELAPA HIBRIDA DIJUAL
Kebun sawit dan Kelapa Hibrida segera dijual
Lokasi Desa Sungai Cambai Kec. Mesuji
Kab. Tulang Bawang-Lampung
Luas 10.252,43 Ha
Status HGU
Lokasi Desa Sungai Cambai Kec. Mesuji
Kab. Tulang Bawang-Lampung
Luas 10.252,43 Ha
Status HGU
20.000 HA Kebun Sawit Akan Dijual
+/- 20.000 Ha Kebun sawit Lokasi di Jambi segera dijual, dengan data sbb:
Ijin Prinsip : No. 525/1090/Ekonomi, tgl 9 Agustus 2004
Ijin Lokasi :
No. 426/2004 (34 ha), tgl 22 Sept 2004
No. 491/2004 (5000 ha), tgl 10 Nop 2004
No. 48/2005 tgl 3 Maret 2005 (6000 ha)
Ijin Usaha :
No. 73/2005 tgl 19 April 2005
No. 375/2005, tgl 24 Agustus 2005 (5000 ha)
No. 311/2007, tgl 17 Juli 2007 (20.000 ha)
Contact person : Rony/Rusdi 081-518449290/081-29094381
Ijin Prinsip : No. 525/1090/Ekonomi, tgl 9 Agustus 2004
Ijin Lokasi :
No. 426/2004 (34 ha), tgl 22 Sept 2004
No. 491/2004 (5000 ha), tgl 10 Nop 2004
No. 48/2005 tgl 3 Maret 2005 (6000 ha)
Ijin Usaha :
No. 73/2005 tgl 19 April 2005
No. 375/2005, tgl 24 Agustus 2005 (5000 ha)
No. 311/2007, tgl 17 Juli 2007 (20.000 ha)
Contact person : Rony/Rusdi 081-518449290/081-29094381
Langganan:
Postingan (Atom)

