Komoditas kelapa sawit dalam perdagangan internasional menduduki urutan kedua setelah minyak kedele (soy bean), dan hingga saat ini masih memiliki peranan penting. Indonesia yang tercatat sebagai sentra produksi kelapa sawit dunia, memiliki kontribusi sekitar 35.9 persen dari total produksi minyak sawit dunia. Selain Indonesia, Malaysia juga tercatat sebagai sentra produksi minyak sawit dunia, bahkan pada periode yang sama kontribusi negara ini telah mencapai 47.8 persen dari total produksi dunia.
Malaysia dan Indonesia yang secara geografis berdekatan ternyata menjadi penghasil utama minyak kelapa sawit dunia, dan dari kedua negara tersebut memiliki kontribusi sekitar 83.7 persen dari total produksi dunia. Negara-negara lainnya yang dianggap memiliki potensi sebagai penyumbang produksi minyak kelapa sawit dunia adalah Nigeria, Ivory Cost, Columbia, Papua New Guinea, Zaire, Kamerun, Equador dan China. Namun hingga saat ini negara-negara tersebut masih memiliki kontribusi yang relatif kecil dibandingkan dengan kedua negara tersebut.
Indonesia tampak terus berusaha meningkatkan peranannya di pasar internasional, baik melalui pengembangan produksinya maupun pemasarannya. Dari sisi produksinya, sebenarnya Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, khususnya peranan perkebunan rakyat. Laju pertumbuhan rata-rata luas perkebunan rakyat selama dua puluah tahun terakhir ini mencapai sekitar 33.2 persen per tahun. Perkebunan rakyat baru dimulai pada tahun 1979 dengan luas lahan sekitar 3,125 ha, kemudian pada tahun 1996 telah mencapai 738.887 ha, dan pada tahun 2006 diperkirakan telah mencapai 2.636.425 ha.

Sementara itu, luas area perkebunan negara (PBN) pada tahun 1996 telah mencapai 426,804 ha, dan tahun 2005 diperkirakan mencapai 677,041 ha. Perkebunan swasta (PBS) memiliki perkembangan yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan luas area perkebunan negara, laju pertumbuhan rata-rata luas area perkebunan negara selama tiga puluh tahun terakhir ini sekitar 13.3 persen per tahun. Sejak tahun 1989 perkebunan swasta telah mampu mendominasi perkebunan rakyat maupun perkebunan negara, bahkan pada tahun 2005 telah memiliki kontribusi sekitar 53.7 persen dari total luas area perkebunan kelapa sawit nasional.
Dilihat dari produktivitasnya, pada tahun 2005 perkebunan swasta mencapai 2.2 ton CPO per ha, dan pada periode yang sama produktivitas perkebunan negara telah mencapai 3.0 ton CPO per ha. Rendahnya produktivitas perkebunan swasta, seperti yang terurai diatas, lebih disebabkan karena banyaknya jumlah kebun yang belum menghasilkan, demikian pula dengan perkebunan rakyat. Adapun perkembangan produksi dan kontribusi masing-masing pengelola perkebunan kelapa sawit tersebut selama satu dekade terakhir ini.
Sejalan dengan perkembangan luas lahannya, produksi PKO (Palm Kernel Oil) selama ini menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat dengan laju pertumbuhan produksi PKO selama beberapa dekade terakhir ini mencapai sekitar 12.0 persen per tahun. Pada tahun 1996 produksi PKO mencapai 1.084.676 ton dan tahun 2005 meningkat lebih dari dua kali lipatnya menjadi 2.516.944 ton. Dari jumlah itu, produksi PKO dari perkebunan rakyat sebanyak 735.999 ton dengan kontribusi 29,2 persen dari total produksinya, dari perkebunan negara mencapai 409,970 ton atau 16,3 persen, dan dari perkebunan swasta 1.370.976 ton atau 54,5 persen.
Sementara itu, tahun 2006 total produksi PKO Indonesia diperkirakan mencapai 2.792.059 ton. Selengkapnya perkembangan produksi PKO dan kontribusi masing-masing pengelola dalam beberapa dekade ini.
B. Penyebaran Menurut Propinsi dan Pengelola
Pengembangan perkebunan kelapa sawit milik rakyat ternyata masih terkonsentrasi di pulau Sumatra, sedangkan kawasan lainnya yang juga telah menunjukkan peranannya adalah Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Jawa Barat.
Pulau Jawa yang menjadi pusat pembangunan nasional ternyata hanya memiliki kontribusi kurang dari 1 persen dari total luas lahan perkebunan sawit nasional pada tahun 2005. Bahkan pengembangan perkebunan kelapa sawit milik rakyat ini juga masih terbatas di propinsi Jawa Barat, dengan luasan sekitar 6,308 ha. Kawasan Nusatenggara dan Maluku tampaknya bukan merupakan tempat yang layak untuk pengembangan kelapa sawit dan hingga saat ini belum tampak upaya kearah itu, baik perkebunan rakyat, perkebunan negara maupun perkebunan swasta.
Pada tahun 2005 kontribusi Sumatra terhadap luas areal perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh rakyat mencapai 81.9 persen, sedangkan kontribusi terhadap produksinya sebesar 85.1 persen. Kalimantan yang menjadi sentra kedua setelah kawasan Sumatra ternyata hanya memiliki kontribusi sekitar 14.9 persen. Sulawesi merupakan kawasan lainnya yang cukup potensial sebagai sentra produksi kelapa sawit nasional, namun demikian hingga saat ini kontribusinya masih relatif kecil. Pada tahun 2005 kawasan ini memiliki kontribusi sekitar 1.8 persen dari total luas area perkebunan rakyat. Papua merupakan kawasan paling timur Indonesia ternyata merupakan kontributor terbesar keempat setelah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Untuk jelasnya luas areal dan produksi perkebunan rakyat masing-masing propinsi pada tahun 2004 dan 2005
Seperti pada perkebunan rakyat, pernyebaran perkebunan kelapa sawit milik negara juga lebih terkonsentrasi di Sumatra, bahkan kawasan ini memiliki kontribusi sekitar 80.5 persen dari luas total perkebunan negara pada tahun 2005. Kawasan Kalimantan yang menjadi sentral terbesar kedua setelah Sumatra, ternyata memiliki kontribusi sekitar 10.3 persen dan kawasan pulau Jawa hanya 2,2 persen. Sedangkan kawasan lainnya masih relatif kecil kontribusinya, baik diliat dari luasannya maupun produksinya.
Seperti halnya dengan perkebunan rakyat dan negara, perkebunan kelapa sawit milik swasta juga masih terkonsentrasi di kawasan Sumatra, kemdian diikuti oleh Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Jawa. Kontribusi Sumatra terhadap luas lahan perkebunan swasta pada tahun 2005 mencapai 72.1 persen, dan kontribusi produksinya sebesar 81.1 persen.
Kalimantan yang menjadi sentra produksi kelapa sawit swasta terbesar kedua setelah Sumatra, memiliki kontribusi sekitar 25.1 persen dan kontribusi produksinya mencapai 16.3 persen. Hal ini merupakan indikasi bahwa kawasan Kalimantan ini merupakan salah satu kawasan yang cukup potensial sebagai sentra produksi kelapa sawit nasional.
Sementara itu, kawasan Sulawesi masih relatif kecil kontribusinya dan pengembangannya masih terbatas di dua propinsi, yaitu propinsi Sulawesi Tengah dan Sulwasei Selatan. Kontribusi Sulawesi terhadap luas perkebunan kelapa sawit swasta pada tahun 2005 sebesar 2.3 persen, dan kontribusi produksinya mencapai 2.3 persen
Demikian pula dengan pulau Jawa, pengembangannya juga masih terbatas di propinsi Banten dan Jawa Barat dimana kontribusinya masih relatif kecil. Sedangkan Papua merupakan kawasan lainnya yang mulai dilirik oleh pihak pengusaha kelapa sawit dan pihak swasta khususnya, bahkan pada tahun 2005 telah tercatat sekitar 11,736 ha tanaman kelapa sawit milik swasta
Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa pengembangan usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia masih terkonsentrasi di Indonesia bagian barat, khsusnya kawasan Sumatra. Kontribusi kawasan ini terhadap usaha perkebunan kelapa sawit nasional pada tahun 2004 mencapai 76.9 persen, kemudian pada tahun 2005 turun menjadi 76.5 persen. Sedangkan kontribusi produksinya pada tahun 2004 sebesar 83.8 persen dan tahun 2005 turun menjadi 83.5 persen.
Kalimantan yang menjadi kawasan terbesar kedua setelah Sumatra ternyata memiliki kontribusi sekitar 19.8 persen.. Sementara itu, wilayah Sulawesi dan Papua hingga saat ini masih memiliki kontribusi yang rendah, namun sebenarnya kedua kawasan ini memiliki potensi yang cukup tinggi sebagai sentra produksi kelapa sawit nasional. Adapun kontribusi masing-masing propinsi terhadap luas lahan dan produksi kelapa sawit nasional.
Demikian sebagian isi Executive Summary dari Direktori "The Big-10 Palm Oil Player, 2008"
Informasi ini bisa didapatkan di http://www.cisiraya.com, atau email: marketing@cisiraya.com, phone 021-3145660